Pola kepribadian dalam Islam

Manusia adalah makhluk yang berkeyakinan yaitu meyakini adanya benar dan salah.Ia dibekali beberapa sifat untuk mendekati kekuatan yang paling sempurna, ditandai dengan adanya rasa takut,cinta, dan tunduk.Ketiganya disebut perangai, dan mungkin merupakan perangai paling awal yang ditanamkan dalam jiwa Manusia.

Al-Qur’an mengemukakan sebuah contoh tentang rasa rindu manusia kepada kesempurnaan sebagaimana yang di alami Nabi Ibrahim a.s.,kita dapat melihat gambaran tentang pencarian dan ketundukan manusia terhadap kekuatan supranatural kendatipun sebenarnya nisbi.Kemudian lahirlah bentuk penyembahan terhadap fenomena-fenomena alam, matahari, dan bulan.

Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar:”Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata“.Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata:”Inilah Tuhanku“.tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:”Saya tidak suka kepada yang tenggelam“.Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata:”Inilah Tuhanku“.Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata:”Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata,”Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”.Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata:”Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada`Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.”(Al-An’am: 74-79)

Dari ayat tersebut kita memahami bahwa manusia mengetahui bahwa Tuhan sudah tentu mempunyai kemampuan dan bersifat kekal.Dan tentu sifat ini tidak dimiliki oleh seluruh makhluk kecuali Allah Yang Maha Suci.Fenomena-fenomena lain adalah lenyapnya ‘tuhan-tuhan’ itu dalam pandangan Nabi Ibrahim a.s. dan tetapnya Kemampuan Sang Pencipta yang tercermin pada fenomena-fenomena makhluk dan dan dalam kekekalan wujud dan ciptaan.Ini merupakan sebab awal dan terpenting dari lahirnya kepercayaan, yaitu bahwa manusia tidak dapat merealisasikan kemanusiaannya dalam hidup kecuali dengan iman. Sebab, mempercayai sesuatu atau mengingkarinya adalah yang memberi arti pada pembuatan manusia, apakah perbuatan itu perlu, tidak perlu, atau main-main belaka. Dimensi kepercayaan ini mengorganisir hubungan manusia dengan dirinya, bahkan hingga dimensi sosial. Kepercayaan itulah yang memberi manusia posisi antara dirinya dan sesuatu. Maka, dalam hal ini manusia dibagi menjadi dua katagori, yaitu:yang percaya terhadap sesuatu dan yang mengingkarinya. Mereka diperlakukan berdasarkan prinsip dasar ini.

Ketika Al-Qur’an menjelaskan contoh manusia yang beragam dari sisi dimensi akidah pada awal surat al- Baqarah,kata mukminin disebutkan sebanyak 4 ayat, sedang lawannya, al-kuffar, disebut 2 kali. Kemudian Al-Qur’an mengupas perihal kelompok yang kehilangan kemanusiaan–karena tidak memiliki jati diri–dalam 13 ayat. Ayat-ayat tersebut mengungkapkan kontradiksi manusia yang terdehumanisasi ini dengan diri dan masyarakatnya. Al-Qur’an menyebut kelompok ini dengan sebutan al-munafiqin. Dengan demikian, Al-Qur’an mengklasifikasikan manusia berdasarkan akidah menjadi tiga kelompok, yaitu: al-mukminun, al-kafirun, dan al-munafiqun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s